Beranda | Artikel
Tafsir Ringkas Surah Al-Fatihah (Bag. 2)
Rabu, 23 Februari 2022

Baca pembahasan sebelumnya Tafsir Ringkas Surah Al-Fatihah (Bag. 1)

Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.

Tafsir surah Al-Fatihah ayat kedua

ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ

Segala pujian kesempurnaan hanya bagi Allah, Tuhan pemelihara seluruh alam” (QS. Al-Fatihah: 2).

(ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ) artinya segala pujian dan syukur yang sempurna hanya hak Allah Ta’ala. Hanya ditujukan kepada Allah Ta’ala semata. Pada kata al-hamdu terdapat alif lam yang menunjukkan seluruh bentuk pujian dan syukur yang sempurna. Imam ahli tafsir Ath-Thabari Rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya tentang makna alif lam ketika terdapat pada kata hamdu dengan mengatakan,

جميع المحامد والشّكر الكامل للّه

“Seluruh pujian dan syukur yang sempurna hanya untuk Allah semata.”

Allah dipuji dengan pujian yang sempurna dari segala sisi. Tidak ada aib sedikit pun aib bagi Allah Ta’ala dari segala sisi.

Al-hamdu sendiri memiliki makna,

وصف المحمود بالكمال مع المحبة والتعظيم

“Mensifati yang dipuji dengan kesempurnaan (dzat, sifat, dan perbuatan-Nya) disertai dengan mencintai-Nya dan mengagungkan-Nya.”

Dengan demikian, hakikat (ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ) adalah memuji Allah dengan pujian yang sempurna, disertai dengan mencintai-Nya dan mengagungkan-Nya. Itu semua didasari dengan keyakinan bahwa Allah Ta’ala itu sempurna, baik dzat, sifat, dan perbuatan-Nya. Tidak ada satupun yang sama dengan-Nya.

Buah penghayatan ayat kedua

Buah menghayati ayat kedua adalah menghadirkan di dalam hati rasa cinta kepada Allah yang Mahasempurna dzat, sifat, dan perbuatan-Nya.

(رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ) artinya pemelihara alam semesta dan seluruh makhluk.

Dua bentuk pemeliharaan Allah terhadap makhluk

Pertama, pemeliharaan umum

Pemeliharaan umum adalah pemeliharaan Allah Ta’ala terhadap seluruh makhluk-Nya dengan menciptakan mereka dan memberi rezeki kepada mereka, sehingga mereka bisa hidup di dunia ini.

Kedua, pemeliharaan khusus

Pemeliharaan Allah Ta’ala yang khusus ditujukan bagi wali-wali-Nya dan orang-orang yang dicintai-Nya. Allah Ta’ala menganugerahkan keimanan, taufik, dan penjegaan bagi mereka dari segala hal yang merusak keimanan mereka. Barangkali inilah rahasia mengapa kebanyakan doa para nabi ‘Alaihimush shalatu was salam itu memakai lafaz Ar-Rabb. Misalnya, menggunakan lafaz Rabbana atau Rabbi. Hal ini karena isi doa-doa mereka adalah masalah kemakmuran iman.

Baca Juga: Keutamaan Surah Al-Fatihah (Bag. 1)

Makna Ar-Rabb

Makna Ar-Rabb mencakup tiga makna, yaitu: Sang Pencipta, Sang Pemilik, dan Sang Pengatur seluruh makhluk.

Kesimpulan tafsir ayat kedua

ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ

Segala kesempurnaan pujian dan syukur hanya ditujukan kepada Allah semata, yang memelihara seluruh makhluk. Pujian dan syukur tersebut disertai dengan mencintai-Nya dan mengagungkan-Nya. Itu semua didasari dengan keyakinan bahwa Allah Ta’ala Mahasempurna dari segala sisi.

Tafsir surat Al-Fatihah ayat ketiga

ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ

Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Fatihah: 3).

Jika ayat ini digabungkan dengan ayat sebelumnya “(2) Segala pujian kesempurnaan hanya bagi Allah, Tuhan pemelihara seluruh alam. (3) yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”, maka menunjukkan sifat-sifat yang dimiliki oleh Allah Ta’ala.

Pada dua ayat ini, Allah Ta’ala disifati dengan tiga sifat, yaitu:

Pertama, Tuhan pemelihara seluruh alam;

Kedua, yang Maha Pengasih;

Ketiga, yang Maha Penyayang.

Dengan demikian, Allah Ta’ala adalah Tuhan pemelihara seluruh alam, yang Maha Pengasih, dan yang Maha Penyayang.

Digandengkannya Rububiyyah (pemeliharaan) Allah dan rahmat (kasih sayang) Allah dalam dua ayat secara berturut-turut memiliki faedah bahwa Rububiyyah Allah dibangun di atas dasar kasih sayang-Nya. Allah Ta’ala memelihara alam semesta dan mengatur seluruh makhluk dengan kasih sayang-Nya yang meliputi seluruh makhluk.

Baca Juga: Khasiat Rahasia Surat Al-Fatihah

Dua bentuk kasih sayang (rahmat) Allah

Pertama, rahmat Allah Ta’ala yang umum

Secara umum, bentuk kasih sayang Allah Ta’ala adalah dengan menganugerahkan kenikmatan duniawi kepada seluruh makhluk-Nya, sehingga mereka dapat hidup di dunia ini. “Seluruh makhluk” di sini meliputi semua manusia, baik manusia beriman maupun kafir, binatang, dan makhluk ciptaan Allah yang lain. Sehingga rahmat yang bersifat umum ini tidak menunjukkan kecintaan Allah Ta’ala kepada orang yang mendapatkannya.

Kedua, rahmat Allah Ta’ala yang khusus

Bentuk kasih sayang Allah yang khusus adalah menganugerahkan nikmat iman pada kehidupan hamba-Nya. Nikmat iman ini berupa ilmu syar’i dan amal saleh. Allah Ta’ala juga memberikan kehidupan duniawi yang bermanfaat untuk keimanan hamba-Nya. Rahmat yang bersifat khusus ini hanya diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Rahmat khusus ini menunjukkan kecintaan Allah Ta’ala kepada orang yang mendapatkannya.

Buah penghayatan ayat ketiga

Buah menghayati ayat ketiga ini adalah menghadirkan di dalam hati pembacanya rasa harap kepada Allah Ta’ala agar mencurahkan kasih sayang untuk dirinya, demi kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat.

Kesimpulan tafsir ayat ketiga

ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ

Allah Ta’ala adalah Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Allah Ta’ala menyayangi seluruh makhluk-Nya dengan rahmat umum, dan menyayangi hanya hamba-hamba-Nya yang beriman dengan rahmat khusus.

Tafisr surah Al-Fatihah ayat keempat

مَـٰلِكِ یَوۡمِ ٱلدِّینِ

Pemilik hari pembalasan” (QS. Al-Fatihah: 4).

(الدِّيْنِ) bisa bermakna pembalasan dan bisa bermakna amal ibadah (pelaksanaan agama Islam). Sedangkan dalam ayat yang mulia ini, (الدِّيْنِ) bermakna pembalasan. Sebagaimana tafsir Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma [1]. Sehingga ayat yang agung ini menunjukkan bahwa Allah (الدِّيْنِ) disifati dengan sifat pemilik hari pembalasan.

Dengan demikian, dari ayat kedua, ketiga dan keempat, Allah (الدِّيْنِ) disifati dengan Tuhan pemelihara seluruh alam, yang Maha Pengasih, yang Maha Penyayang, dan pemilik hari pembalasan.

Rahasia dikhususkannya kepemilikan Allah terhadap hari pembalasan

Allah Ta’ala adalah pemilik segala sesuatu, baik hari pembalasan maupun selainnya. Namun, dikhususkannya kepemilikan Allah Ta’ala terhadap hari pembalasan karena sangat tampak kepemilikan dan kekuasan Allah Ta’ala atas segala sesuatu saat hari pembalasan. Hal ini sebagaimana tafsir Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma terhadap ayat ini yang disebutkan dalam tafsir Ath-Thabari Rahimahullah,

“Tidak ada satu pun selain Allah yang memiliki keputusan hukum di hari pembalasan tersebut, seperti raja mereka sewaktu di dunia.”

Beliau Radhiyallahu ‘anhuma juga berkata,

“Hari perhitungan amalan makhluk, yaitu hari kiamat. Allah membalas mereka sesuai dengan amalan mereka. Jika amalan mereka baik, maka baik pula balasannya. Namun, jika amalan mereka buruk, maka buruk pula balasannya, kecuali jika hamba yang Allah Ta’ala maafkan. Sehingga semua urusan kembali kepada keputusan-Nya.”

Buah penghayatan ayat keempat

Buah menghayati ayat keempat adalah menghadirkan di dalam hati rasa takut kepada Allah Ta’ala. Khawatir dirinya disiksa di hari pembalasan disebabkan oleh dosa-dosanya.

Baca Juga:

 

Faedah dari ayat kedua, ketiga, dan keempat

Ayat kedua membuahkan ibadah cinta kepada Allah Ta’ala. Ayat ketiga membuahkan ibadah harap kepada Allah Ta’ala. Ayat keempat membuahkan ibadah takut kepada Allah Ta’ala. Dengan demikian, menghayati Al-Fatihah membuahkan tiga rukun ibadah hati dan penggeraknya, yaitu: ibadah berupa rasa cinta, harap, takut kepada Allah Ta’ala semata.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berkata,

اعلم أن محركات القلوب إلى الله عز وجل ثلاثة: المحبة، والخوف، والرجاء. وأقواها المحبة، وهي مقصودة تراد لذاتها؛ لأنها تراد في الدنيا والآخرة بخلاف الخوف فإنه يزول في الآخرة

“Ketahuilah, bahwa penggerak hati menuju kepada Allah ‘Azza wa jalla itu ada tiga, yaitu: cinta, takut, dan harap. (Penggerak) yang terkuat adalah cinta. Cinta (kepada Allah) itu menjadi tujuan karena bentuknya ada di dunia dan di akhirat. Lain halnya dengan takut. Rasa takut kepada Allah Ta’ala akan hilang di akhirat (surga).”

Kesimpulan tafsir ayat keempat

مَـٰلِكِ یَوۡمِ ٱلدِّینِ

Allah Ta’ala adalah Tuhan pemilik hari pembalasan. Allah Ta’ala membalas mereka sesuai dengan amalan mereka. Jika amalan mereka baik, maka baik pula balasannya. Namun jika amalan mereka buruk, maka buruk pula balasannya, kecuali hamba yang Allah Ta’ala maafkan. Sehingga semua urusan kembali kepada keputusan-Nya. Karena hanya Allah Ta’ala pemilik hari pembalasan.

Tafisr surah Al-Fatihah ayat kelima

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan” (QS. Al-Fatihah: 5).

Kaidah “mendahulukan sesuatu yang haknya diakhirkan menunjukkan kepada pembatasan”

Susunan (إِيَّاكَ نَعْبُدُ) pada asalnya adalah نعبدك, dengan mengakhirkan objek setelah kata kerjanya. Namun dalam ayat yang mulia ini, susunan kalimatnya dibalik, yaitu objek didahulukan daripada kata kerjanya. Hal ini menunjukkan faedah pembatasan yang diterjemahkan dengan, “hanya kepada Engkau-lah kami beribadah”.

Demikian pula (إِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) pada asalnya نستعين بك, dengan mengakhirkan objek setelah kata kerjanya. Namun dalam ayat yang mulia ini, susunan kalimatnya dibalik, yaitu objek didahulukan daripada kata kerjanya. Hal ini menunjukkan faedah pembatasan yang diterjemahkan dengan, “hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan”.

Di dalam pembatasan ini terdapat dua rukun tauhid, yaitu:

Rukun pertama, nafi (meniadakan sesembahan selain Allah Ta’ala);

Rukun kedua, itsbat (menetapkan satu-satunya sesembahan yang berhak disembah adalah Allah Ta’ala).

Inilah hakikat tauhid. Bahwa hanya kepada Allah-lah seluruh peribadatan ditujukan. Tidak mempersembahkan ibadah apa pun kepada selain-Nya. Salah satu bentuk ibadah adalah ibadah isti’anah (memohon pertolongan). Sehingga wajib memohon pertolongan (isti’anah) hanya kepada Allah Ta’ala semata.

Definisi ibadah ditinjau dari jenis ibadah yang disyariatkan oleh Allah Ta’ala

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah mendefinisikan ibadah dalam kitab beliau Al-‘Ubudiyyah [2] dengan mengatakan,

الْعِبَادَةُ هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ تَعَالَى وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ

“Ibadah adalah suatu kata yang mencakup setiap perkara yang dicintai dan diridai oleh Allah Ta’ala, baik berupa ucapan maupun perbuatan, baik ibadah yang batin (di dalam hati) maupun ibadah yang dzahir (dengan anggota badan).”

Definisi ibadah ditinjau dari sisi perbuatan yang dilakukan seorang hamba

Syekh Muhammad Sholeh Al-‘Utsaimin Rahimahullah menjelaskan definisinya dengan,

التذلل لله – عز وجل – بفعل أوامره واجتناب نواهيه؛ محبة وتعظيماً

“Merendahkan diri kepada Allah ‘Azza wa jalla dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, disertai cinta dan mengagungkan-Nya” [3].

Dalam (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) terdapat pendahuluan ibadah daripada isti’anah. Hal ini dikarenakan alasan-alasan sebagai berikut:

Pertama, isti’anah dibutuhkan dalam setiap ibadah;

Kedua, mendahulukan hak Allah Ta’ala daripada makhluk;

Ketiga, mendahulukan tujuan (ibadatullah) sebelum sarana (isti’anah billah);

Keempat, mendahulukan ibadah secara umum daripada khusus.

Dalam (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) terdapat tujuan dan sarana yang paling mulia. Tujuan yang paling mulia tersebut adalah ibadah kepada Allah Ta’ala semata. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

”Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (saja)” (QS. Adz-Dzaariyaat: 56).

Sedangkan sarana yang paling mulia untuk mewujudkan tujuan tersebut adalah isti’anah (memohon pertolongan) kepada Allah Ta’ala semata.

Faedah penghayatan ayat kelima ini

Pertama, hidup kita adalah untuk beribadah kepada Allah Ta’ala semata. Hal itu tidak bisa tercapai kecuali dengan memohon pertolongan kepada-Nya.

Kedua, dalam ayat kelima ini terdapat dua dari tiga prinsip istikamah dalam beragama Islam. Pertama, ikhlas beribadah kepada Allah Ta’ala semata. Murni dan bersih dari kesyirikan. Kedua, tawakal dan memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala semata agar bisa beribadah hanya kepada-Nya. Sedangkan prinsip istikamah ketiga terdapat pada ayat keenam, yaitu Al-Mutaba’ah (meniti jalan lurus yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam beribadah kepada-Nya).

Catatan: ibadah kepada Allah tidak mungkin diterima kecuali jika disertai ikhlas dan mutaba’ah. Keduanya adalah syarat diterimanya amal ibadah. Begitu pun tidak mungkin amal ibadah bisa diterima kecuali dengan bertawakal dan mohon pertolongan kepada Allah Ta’ala semata.

Kesimpulan tafsir ayat kelima

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Tujuan hidup kita hanyalah beribadah kepada Allah dan hanya memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala semata.

Baca Juga:

[Bersambung]

***

Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah

Artikel: Muslim.or.id

 

Referensi:

1. Tafsir Ath-Thabari

2. Tafsir As-Sa’di

3. Tafsir Al-‘Utsaimin

4. Al-‘Ubudiyyah, Ibnu Taimiyyah

5. Al-Qoulul Mufid, Al-‘Utsaimin.

6. Syarah Aqidah Wasithiyyah, Al-‘Utsaimin.

Catatan Kaki:

[1]  https://tafsir.app/zad-almaseer/1/4 [2] Al-‘Ubudiyyah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, hal. 4 [3] Al-Qoulul Mufid, hal. 10


Artikel asli: https://muslim.or.id/72510-tafsir-ringkas-surah-al-fatihah-bag-2.html